Lalu bagaimanakah selanjutnya nasib Mourinho? Sekedar kilas balik, mantan pelatih Inter itu didatangkan oleh Madrid dengan diberi misi khusus, yakni menghentikan dominasi Barcelona di La Liga Spanyol maupun di Eropa. Berbekal rajutan treble-winners bersama Inter, pria Portugal itu pun dikontrak untuk menahkodai klub bertabur bintang ini. Namun setelah melewati sembilan bentrokan terakhir di bawah kepelatihannya, tangan dingin Mourinho tak lebih baik dari pelatih-pelatih Madrid sebelumnya. Pertanyaan menarik kemudian muncul: sekalipun Madrid (katakanlah) berhasil mengklaim trofi La Liga, apakah itu cukup untuk menyelamatkan karier Mourinho di Bernabeu? Tentu nilai prestise mengalahkan Barca boleh jadi maknanya lebih krusial bagi para loyalis Los Blancos.
Di serial Clasico jilid pertama Mourinho, sang pelatih harus puas dibuat beribu malu kala timnya diporakporandakan Barca 5-0. Tapi catatan negatif itu paling tidak bisa dibayar ketika Madrid sukses menganjung trofi Copa del Rey pada April tahun lalu. Kendati begitu, Copa, bila dibandingkan dengan gelar La Liga dan Liga Champions, bisa dikatakan berada di kasta ketiga. Yah, Madrid harus rela melihat Barca merebut dua gelar bergengsi itu musim kemarin.
Semestinya, di musim kedua Mourinho menjabat sebagai juru racik Madrid, sekurangnya bisa membuat Barca bungkam. Memang, kini mereka masih menguasai tahta klasemen liga untuk sementara waktu berkat konsistensi melahap musuh-musuh lainnya selain Los Blaugrana. Akan tapi sejauh kita melihat perduelan di antara kedua raksasa Spanyol ini, Mourinho acapkali gigit jari di akhir pertandingan.
Ada perbedaan filosofi yang mencolok
| Guardiola dan Mourinho
Mimpi buruk Kampanye 2011/12 bagi Madrid dimulai ketika duel dengan Barca di pentas Spanish Supercopa. Mengantungi performa mengilap selama menjalani pra musim dibanding rivalnya itu, jelas memberi sinyal ancaman pada Barca. Namun, tetap saja pada akhirnya Xavi dkk. berhasil mempersembahkan gelar Supercopa dengan kemenangan agregat 5-4 di dua leg.
Momen tidak manis itu segera dilupakan anak-anak Mourinho, sampai akhirnya kembali mereka bertemu di ajang liga pada Desember lalu di Bernabeu. Di kesempatan ini, selain membawa misi balas dendam, bila Madrid menang mereka sejatinya bakal menutup kesenjangan dengan Barca menjadi sembilan poin. Namun, kendati sempat unggul cepat di detik 22, Madrid kembali harus mengakui superioritas Barca yang menang secara heroik 3-1. Yah, Barca bak momok menakutkan bagi Madrid. Sokongan suara suporter sendiri pun seperti tidak menggambarkan kalau suasana stadion kebanggaan mereka itu angker bagi sang rival abadi.
Kisah yang sama terjadi di laga Clasico terakhir kemarin. Wujud frustrasi terlihat dari pihak Madrid dengan menggemanya cemoohan dari fans mereka sendiri karena menyaksikan tim kesayangannya tak bisa berbuat banyak di kaki Barca.
Di ruangan pers pasca pertandingan, Mourinho mengakui dirinya lah orang yang paling bertanggung jawab atas kekalahan 2-1 itu. Tidak banyak celotehan, gerutu, atau alasan-alasan yang biasa dilontarkan sang juru taktik kala timnya kalah dari Barca. Kali ini Mourinho benar-benar bungkam seribu bahasa. Ia juga mengakui mendengar suara-suara sumbang dari tifosi Madrid lantaran ketidakberdayaan timnya di hadapan Barca.
Di tahun yang berbeda, di musim yang baru dan di edisi el Clasico yang lainnya, lagi-lagi Real Madrid belum bisa meruntuhkan hegemoni Barcelona. Yang terbaru, tentu saja di laga Copa del Rey kemarin yang (lagi) berakhir dengan kemenangan Barcelona 2-1 atas pasukan Jose Mourinho. Satu pertanyaan besar yang kini mulai mengudara di benak publik: Ada apa dengan Los Blancos versi garapan Mourinho kala bersua dengan armada Josep Guardiola?
Madrid seperti terkena sindrom deja-vu ketika bertarung dengan Lionel Messi cs. Sempat lebih dulu memimpin melalui gol Cristiano Ronaldo, namun pada akhirnya gawang Madrid bobol juga oleh aksi Carles Puyol dan Eric Abidal untuk memastikan pesta kemenangan Barca di Santiago Bernabeu. Ini jelas mengingatkan kita pada Clasico di bulan Desember kemarin. Unggul lebih dulu, akan tetapi Barca memberikan kejutan luar biasa di babak kedua.
Lalu bagaimanakah selanjutnya nasib Mourinho? Sekedar kilas
balik, mantan pelatih Inter itu didatangkan oleh Madrid dengan diberi
misi khusus, yakni menghentikan dominasi Barcelona di La Liga Spanyol maupun di Eropa. Berbekal rajutan treble-winners
bersama Inter, pria Portugal itu pun dikontrak untuk menahkodai klub
bertabur bintang ini. Namun setelah melewati sembilan bentrokan terakhir
di bawah kepelatihannya, tangan dingin Mourinho tak lebih baik dari
pelatih-pelatih Madrid sebelumnya. Pertanyaan menarik kemudian muncul:
sekalipun Madrid (katakanlah) berhasil mengklaim trofi La Liga, apakah
itu cukup untuk menyelamatkan karier Mourinho di Bernabeu? Tentu nilai
prestise mengalahkan Barca boleh jadi maknanya lebih krusial bagi para
loyalis Los Blancos.
Di serial Clasico jilid pertama Mourinho, sang pelatih harus
puas dibuat beribu malu kala timnya diporakporandakan Barca 5-0. Tapi
catatan negatif itu paling tidak bisa dibayar ketika Madrid sukses
menganjung trofi Copa del Rey pada April tahun lalu. Kendati begitu,
Copa, bila dibandingkan dengan gelar La Liga dan Liga Champions, bisa dikatakan berada di kasta ketiga. Yah, Madrid harus rela melihat Barca merebut dua gelar bergengsi itu musim kemarin.
Semestinya, di musim kedua Mourinho menjabat sebagai juru racik
Madrid, sekurangnya bisa membuat Barca bungkam. Memang, kini mereka
masih menguasai tahta klasemen liga untuk sementara waktu berkat
konsistensi melahap musuh-musuh lainnya selain Los Blaugrana.
Akan tapi sejauh kita melihat perduelan di antara kedua raksasa Spanyol
ini, Mourinho acapkali gigit jari di akhir pertandingan.
Ada perbedaan filosofi yang mencolok
| Guardiola dan Mourinho
Mimpi buruk Kampanye 2011/12 bagi Madrid dimulai ketika duel dengan Barca di pentas Spanish Supercopa. Mengantungi performa mengilap selama menjalani pra musim dibanding rivalnya itu, jelas memberi sinyal ancaman pada Barca. Namun, tetap saja pada akhirnya Xavi dkk. berhasil mempersembahkan gelar Supercopa dengan kemenangan agregat 5-4 di dua leg.
Momen tidak manis itu segera dilupakan anak-anak Mourinho, sampai
akhirnya kembali mereka bertemu di ajang liga pada Desember lalu di
Bernabeu. Di kesempatan ini, selain membawa misi balas dendam, bila
Madrid menang mereka sejatinya bakal menutup kesenjangan dengan Barca
menjadi sembilan poin. Namun, kendati sempat unggul cepat di detik 22,
Madrid kembali harus mengakui superioritas Barca yang menang secara
heroik 3-1. Yah, Barca bak momok menakutkan bagi Madrid. Sokongan suara
suporter sendiri pun seperti tidak menggambarkan kalau suasana stadion
kebanggaan mereka itu angker bagi sang rival abadi.
Kisah yang sama terjadi di laga Clasico terakhir kemarin.
Wujud frustrasi terlihat dari pihak Madrid dengan menggemanya cemoohan
dari fans mereka sendiri karena menyaksikan tim kesayangannya tak bisa
berbuat banyak di kaki Barca.
Di ruangan pers pasca pertandingan, Mourinho mengakui dirinya lah
orang yang paling bertanggung jawab atas kekalahan 2-1 itu. Tidak banyak
celotehan, gerutu, atau alasan-alasan yang biasa dilontarkan sang juru
taktik kala timnya kalah dari Barca. Kali ini Mourinho benar-benar
bungkam seribu bahasa. Ia juga mengakui mendengar suara-suara sumbang
dari tifosi Madrid lantaran ketidakberdayaan timnya di hadapan Barca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar